Berita
Waktunya Petani Siaga Perubahan Iklim
05 Mei 2011 - Siaran Pers
Siang di Wonogiri, Sukini (32) melepas caping bambunya dan menerawang. Dihadapannya sawah yang baru saja mengeluarkan bulir padi, mendadak layu terkena hama. “ Entah wereng atau apa. Tanaman padi ini berubah merah mulai dari akarnya”. Dengan kondisi seperti itu, tidak bisa dipastikan apakah panen musim ini dapat diharapkan. Hujan yang biasaya turun tiga bulan lagi, ternyata terburu-buru datang. Siang itu lagi-lagi hujan deras.
Kisah Sukini, hanyalah satu dari ribuan kisah tentang manusia yang terombang-ambing oleh dampak perusakan lingkungan yang mengakibatkan perubahan iklim. Perubahan iklim ini telah meningkatkan frekuensi dan tingkat keparahan sebagian bahaya, seperti banjir, kekeringan, longsor, dll. Perubahan iklim ini juga meningkatkan kerentanan masyarakat, dan efek depresi serta tekanan hidup menjadi lebih berat. Yang lebih parah adalah, perubahan iklim juga meningkatkan ketidak pastian dari semua kejadian-kejadian yang tidak diharapkan ini.
Jauh sebelumnya di tahun 2005, berbagai Negara telah berupaya keras memenuhi komitmen global pengurangan bencana dalam Kerangka Aksi Hyogo. Namun, dengan tuntutan terhadap perubahan iklim dan variabilitas iklim, diperlukan kepastian bahwa investasi PRB akan berusia panjang, dan menawarkan panduan praktis dalam skala lokal dan nasional untuk menghadapi ancaman-ancaman baru yang berkembang. Dalam konteks ini, Siaga Perubahan Iklim harus segera mulai dilakukan.
Petani memiliki tingkat keterpaparan yang tinggi terhadap perubahan iklim ini. Rusaknya tanaman karena hama yang disebabkan ketidakseimbangan populasi dalam lingkungan, gagalnya panen karena terendam banjir yang tiba-tiba datang, dan ditambah lagi dengan kelembagaan petani yang belum merespon perubahan iklim.
Petani harus memulai untuk menanggulangi kemiskinan dan kerentanan serta penyebab strukturalnya melalui penguatan lembaga usaha dan memulai kembali basis gerakan dalam Gapoktan. Petani dapat mulai menguatkan Koperasi, dan mendorong sistem ekonomi yang lebih adil secara sosial dan setara. Gapoktan dapat menjadi jalan bagi para petani untuk mengakses pelayanan dari pemerintah, mengakses aset produktif dan mempengaruhi keputusan pemerintah dalam hal pertanian.
Di tingkat desa, petani juga sebaiknya mengaktifkan kembali lumbung desa dan menciptakan bibit sendiri melalui lumbung bibit sebagai sarana ketahanan pangan. Prediksi krisis pangan dunia pada tahun 2015 harus mulai diantisipasi dengan penanaman tanaman pangan non musiman. Padi sebagai makanan pokok, sangat rentan terhadap hama ataupun gagal panen karena factor cuaca. Lain halnya dengan tanaman keras seperti sukun, sagu, jagung atau ketela yang lebih tahan terhadap cuaca dan hama, sehingga hasilnya pun lebih dapat dipastikan. Pengalihan makanan pokok beras menjadi sukun/sagu atau ketela dapat mulai dipopulerkan kembali. Di sisi lain, industry makanan olahan dapat mulai meningkatkan tingkat konsumsi makanan pokok alternative ini melalui bisnis skala minimalis milik petani. (#291 views)
Kirim ke Teman
Cetak halaman ini
Posting komentar
Share on Facebook

