Berita
“Saya tinggal di Desa yang Tangguh!”
05 Mei 2011 - Siaran Pers
Bukan berlebihan apabila Ulil (35) berkata mantap tentang desanya, Wonolelo. Terletak di pegunungan di Kecamatan Pleret, desa ini sebenarnya menyimpan risiko bencana gempa, tanah longsor dan angin putting beliung. Tiga tahun yang lalu, mungkin dia tidak akan berkata semantap itu. Pasca gempa bulan Mei 2006, tersisa masalah tersendiri bagi Desa Wonolelo yaitu retakan membujur panjang. Retakan panjang ini mengakibatkan longsor tahun 2008 setelah terjadi hujan lebat. Dari mana dia mempunyai keyakinan itu dan berkata, “Saya tinggal di Desa yang Tangguh!” ?
Berawal dari rentetan kejadian gempa dan longsor, warga mulai sadar akan bencana yang senantiasa mengincar keselamatan mereka. YP2SU menyadari bahwa Desa Wonolelo sebagai unit terkecil pemerintahan politik dan administratif, yang langsung berhadapan dengan permasalahan masyarakat, menjadi titik yang strategis untuk membangun gerakan pengurangan risiko bencana di tingkat basis. Melalui Program DESA TANGGUH, YP2SU membangun partisipasi semua elemen di Wonolelo untuk membentuk sistem yang diharapkan dapat mempertinggi daya lenting masyarakat untuk menanggulangi bencana.
“ Kami mendapatkan pelatihan pertolongan pertama, dan pengenalan potensi serta risiko di desa dari YP2SU sekitar bulan Maret tahun lalu. Rekan dari YP2SU sudah seperti warga asli di desa kami. Mereka bersama kami belajar bersama tentang usaha penanggulangan bencana yang dapat dilakukan” ungkap Ulil yang juga menjadi tim video komunitas bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Wonolelo.
“ FPRB Wonolelo terus melakukan advokasi, pengawasan, fasilitasi dan konsultasi pengarusutamaan PRB. Kami juga dikuatkan oleh Perdes RPB (Rencana Penanggulangan Bencana)” jawab Ulil saat menjawab pertanyaan tentang aktivitas FPRB. YP2SU sangat sadar bahwa kebencanaan merupakan masalah yang harus ditangani secara bersama-sama, baik unsur pemerintah, lembaga masyarakat maupun warga sendiri. Sehingga YP2SU mewujudkan aspirasi masyarakat desa akan ketangguhan dalam tiga paket rencana, yaitu Rencana Penanggulangan Bencana ( RPB), Rencana Kontijensi ( Renkon) dan Rencana Aksi Komunitas ( RAK)
Menurut Ulil, penyusunan Rencana Aksi Komunitas menjadi titik kesadaran Wonolelo dalam mengusahakan keselamatan bagi warganya. Seluruh warga sadar akan ancaman, namun tidak menunggu bencana datang, tetapi bangkit dan bersiap siaga. Rencana penanggulangan bencana disusun dengan melibatkan seluruh elemen desa, dan menentukan apa yang dapat diperbuat oleh siapa dan kapan itu akan dilaksanakan.
Melalui berbagai aktivitas yang telah dilakukan oleh masyarakat Desa Wonolelo telah terbentuk Desa Tangguh, dengan perencanaan dan partisipasi yang terlembagakan. Masyarakat teredukasi untuk penanggulangan bencana. Risiko bencana telah terpetakan, dan FPRB telah merampungkan video komunitas tentang kelestarian lingkungan.
“ Kami berterima kasih kepada YP2SU. Dengan program DESA TANGGUH, kami merasa lebih siap sekarang” kata Ulil sambil tersenyum. Tentu jalan masih panjang untuk mengusahakan budaya keselamatan untuk masyarakat. Setiap desa memiliki ruang hidup yang lebih luas dengan desa-desa di sekitarnya, dan harapan besar YP2SU agar semua desa memiliki budaya keselamatan secara mandiri. Bila seorang Ulil dengan warga Wonolelo dapat mewujudkan Desa Tangguh, tentu saja hal ini bisa juga dilakukan di tempat lain. Hingga nanti kita bisa dengar semua warga desa berujar, “ Saya tinggal di Desa yang Tangguh”.
Kirim ke Teman
Cetak halaman ini
Posting komentar
Share on Facebook


